Tujuh Hari Terakhir

Enam penulis berkolaborasi dalam satu buku tentang beberapa kematian yang diduga berhubungan dengan cermin kuno bernama Gandasedha.

Penasaran?

Siapkan nyali untuk berkunjung ke http://www.storial.co/book/tujuh-hari-terakhir

Di tulis oleh :

* http://www.storial.co/profile/lembah-selatan

* http://www.storial.co/profile/itolawputra30

* http://www.storial.co/profile/handhita_m

* http://www.storial.co/profile/gendhuk

* http://www.storial.co/profile/intannera30

* http://www.storial.co/profile/bunga-utara

Arman Nurrahman

“Ibu, aku ingin membunuh perempuan itu.” Kata-kata yang diucapkan oleh seorang laki-laki muda yang hampir menikah mengiris jiwaku. Hati terasa perih. Laki-laki muda itu menatapku tajam.  

Getar di dada merambat cepat menelusuri tiap aliran darah di seluruh tubuh. Kedua tanganku dingin. Tatapan itu sangat aku kenal. Pernah hampir tujuh belas tahun aku mendampingi pemilik tatapan seperti itu. Bahkan sebelum Arman lahir. 

****

“Duduk, anakku,” kataku sambil menggandeng lengan laki-laki muda itu menuju kursi dekat jendela. 

“Sudah berlalu terlalu lama, ikhlas kan.” Aku menatap jiwanya. 

Masih ada gelegak panas serupa magma di perut bumi. Ada merah masih menganga di sebuah ruang di hati anak muda di hadapanku.

“Dendam itu tidak baik, Anakku.” Masih berusaha menghibur aku menggenggam kedua tangannya. Hangat dan bergetar. 

“Hanya dengan cara itu dendamku akan lunas, Ibu.” 

“Negara kita negara hukum, Nak. Sejak kamu lahir sudah dilindungi hukum.” Aku harus membuka hati anak muda ini.

“Tapi perempuan kotor itu akan merusak kehidupan,” kata anakku. Aku merasakan kemarahan yang ditahan. 

“Perempuan perusak rumah tangga itu tempatnya di ujung badik.” Wajah kesumat itu menohok selarik rasa yang masih terselip di hatiku.

Awalnya aku masih merasa senang ketika anakku masih marah pada mas Purnomo. Berarti anak-anak tidak akan mau diajak Bapaknya ke rumah barunya. Masih terselip ego karena aku merasa menang. Menang karena membuat mas Purnomo tidak akan bisa membawa salah satu anaknya hidup bersama ibu tiri. 

Apalagi Tante Parni membantu menanamkan pengertian jahatnya ibu tiri. Padahal dia sendiri seorang ibu tiri buat anak-anak Om Pran, suaminya. Adik ibu yang satu ini sangat mendukung usahaku menjauhkan anak-anak dari mas Purnomo. 

Tatapan dendam di retina Arman membuatku ngeri. Dan itu harus dipadamkan. Bukan karena aku takut disalahkan. Bukan karena aku takut mas Purnomo akan mengambil anak-anak melalui jalur hukum. Bukan. 

Aku harus menjauhkan anakku dari larangan agama. Meskipun tidak makan bangku sekolahan terlalu tinggi tapi anak-anakku harus beragama dengan baik. Shalat yang dilakukannya tiap hari. Ayat-ayat Al Qur’an yang dibacanya tiap sore harus mampu membuat anakku mengimani Islam lebih dalam. 

“Dengarkan ibu, Nak.” Kedua tangan mencangkup wajah laki-laki muda di hadapanku. “Ibu akan bicara panjang dan sekali. Tolong dengarkan baik-baik dan pikirkan dengan baik.” Gerakan mataku  mengajaknya mengangguk.

“Baik Ibu,” jawab anakku terdengar lirih. Masih bergetar dendam di sana.

“Kamu ingat Tante Titin?” tanyaku. Anakku mengangguk.

“Kamu ingat Tante Wati? Tante Heny, Tante Dini dan yang terakhir Tante Anna?” Anakku mengangguk dengan raut wajah penuh tanya..

“Tante Wati yang datang ke rumah dengan ibunya?” tanya anakku. Balik aku yang mengangguk. 

“Tante Titin yang berciuman dengan Bapak di ruang tamu? Tante Heny yang datang bersama ayahnya? Tante Dini yang nekat telepon ingin memiliki Bapak? Dan Tante Anna yang mengajak Bapak ke pantai untuk membawa aku hidup bersamanya?” Pertanyaan Arman ku jawab dengan anggukan pedih. Luka itu belum hilang benar.

“Bapakmu bukan seorang remaja. Bapakmu laki-laki dewasa yang sudah menikah dan punya anak. Bapakmu bukan orang bodoh.” Jeda yang kucipta membuat sorot dendam di mata Arman melemah. 

“Perempuan itu tidak akan mengikuti laki-laki jika laki-laki tidak memberi janji dan jaminan apa pun.” Kembali aku memberi ruang hati anakku untuk menelaah ucapanku. 

“Kamu sudah bertunangan dengan pacarmu. Kamu pasti tahu maksud kalimat ibu,” lanjutku. 

Arman menganggukkan kepala. Menggenggam kedua tanganku yang sedari tadi sudah menggenggam tangannya. 

“Perempuan itu tidak sepenuhnya salah. Ibu juga salah. Tidak bisa menjaga diri sehingga Bapakmu mencari perempuan lain. Dan Bapakmu juga keliru. Mengedepankan egonya.” Satu tanganku mengelus kepala Arman. 

“Pertengkaran dan perceraian dalam sebuah pernikahan itu bukan salah istri atau suami saja. Keduanya saling berperan.” Aku berusaha  tersenyum menatap laki-laki muda bernama Arman.

“Satu lagi. Kita tidak boleh menganggap orang lain berkelakuan bejat. Belum tentu kita lebih baik dari orang yang kita benci kelakuannya. Allah punya kriteria tersendiri untuk umat-NYA. Jadi, bukan kita yang harus menghakimi manusia lain. Sekalipun kita sangat membencinya. Hanya Allah yang mampu menghakimi manusia dengan adil.” Aku menyibak rambut di kening Arman. “Kita hanya perlu berusaha berbuat baik pada siapa pun.” 

Arman tertunduk. Kurasakan jemarinya tidak setegang tadi. Helaan napasnya sudah lebih tenang. 

“Jangan Kau sia-siakan islammu dengan hal-hal yang merusak ajarannya.” Suara mas Zamron sudah berdiri di belakang kami. 

“Ayah …” Anakku berdiri meraih tangan ayah tirinya kemudian menciumnya. 

“Yang penting, kita tutup masa lalu. Kita membangun masa depan agar menjadi lebih baik. Baik di langkah, di iman dan di hati.” Mas Zamron mencium pucak kepala Arman, anakku. 

Sampah

Sudah beberapa kali subuh aku tidak melihat wanita ceking dengan rokok di tangan sambil mendorong gerobak. Tetapi sampah di depan rumahku dan juga rumah tetangga bersih. Berarti diambil dan aku tidak melihat wanita itu mengambilnya. 

Akhirnya hari ini sehabis shalat subuh aku nongkrong di halaman depan sambil mencabuti rumput meskipun belum tinggi.Sampai jam tujuh pagi tidak lewat. Sampah masih utuh di bak yang terbuat dari ban bekas di depan rumahku dan tetangga. 

Sore sepulang kerja, bak masih ada sampah tadi pagi. Berarti belum diambil. Karena sampahku sedikit maka besok harinya tidak ada tambahan sampah di bak. Tapi sampah kemarin masih ada.

Subuh kembali aku nongkrong di halaman depan. Seperti kemarin sambil merumput, mencabut rumput pendek-pendek di halaman. Tapi jarum jam dindingku sudah menunjuk diangka tujuh lebih lima belas menit. Belum kulihat wanita tua mendorong gerobaknya mendekat.

Tetiba terdengar suara riuh mesin seperti bajaj. Sebuah motor dengan bodi didesain sedemikian rupa ditambah gerobak dalam ukuran tidak kecil juga tidak terlalu besar berhenti di depan rumah. Warna gerobak biru muda yang segar. Warna putih mendominasi jeruji gerobaknya. Cat warna-waena itu masih baru. Baunya saja masih menguar. Bagian samping gerobak sengaja dipasang lempeng kayu sebagai landasan tulisan.’Petugas Sampah Pemberdayaan Koperasi Jaya Murni dari rt. 09 rw. 02.’ Petugasnya dua orang laki-laki. Sebagai pengemudi dan pengambil sampahnya. Kedua laki-laki itu memag belum terlalu tua. Jadi jika sampah yang diambil dari bak yang besar dan isinya penuh, maka dua laki-laki itu saling bantu.

Sudah hampir dua bulan aku tidak melihat wanita tua yang ceking dengan rokok di sela jemari lewat di depan rumah. Berarti tim sampah sudah diganti. Sekarang dikelola oleh rt. 09 rw. 02. Yang gerobaknya lebih baru, lebih bersih dan bermesin. Sehingga pengambilan sampah menjadi lebih cepat. Kemana gerobak sampah yang reyot dulu? Yang jika mengangkut sampah terlalu banyak akan menjebol sisi kanan atau kiri gerobak, membuat sampah tercecer sepanjang jalan. Jika sampah seluruh komplek perumahan diambil oleh tim dari rt. 09 rw.02, lantas bagaimana nasib wanita tua dengn rokok di sela jemari beserta gerobaknya? 

Rentang Hati

Laki-laki itu bernama Henry, dan wanita cantik berkulit putih itu bernama Dewana. Dia istri kedua Henry. Laki-laki yang sudah pernah menikah itu ternyata tidak sekeren penampilannya. Tidak segagah kalimat yang keluar dari mulutnya.T idak ada sinergi antara otak, hati dan perilaku sebagai kepala keluarga. 

Dia bilang tidak senang jika pergi kondangan tanpa istrinya. Tapi wajahnya sangat merdeka berada diantara teman-temannya yang 90% adalah wanita muda.Beberapa temannya yang sudah menikah mengajak suami atau istrinya. Tapi tidak dengan Henry. Kakaknya melarang Dia mengajak istrinya.

“Nanti ke rumah Hen, ada baju batik baru buat kondangan.” Belum Henry menjawab sudah disambung kalimat selanjutnya. 

“Nanti malam kamu sendiri kan, Hen? Karena dua keponakanmu ikut, jadi mobil penuh.” 

“Iya Mbak,” jawab Henry berseri.

Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa kakak-kakak Henry membenci Dewana. Dan ternyata Henry bukan laki-laki dewasa yang tegar. Dia belum paham artinya mempertahankan biduk pernikahan. Perilakunya   mulai lagi diatur kakaknya. Dan laki-laki itu pun lebih bisa melihat istrinya sedih daripada kakaknya yang sedih. Dia lebih rela istrinya menderita ketimbang membuat kakaknya sedih.

Bukan meniadakan satu dengan satunya, bukan. Tapi Henry selalu menganggap pendapat kakaknya lebih baik dari istrinya. Di mata semua kakaknya memang Henry sempurna, tapi tugasnya sebagai kepala keluarga? Tugasnya yang satu ini pun didikte kakaknya. Henry tidak menyadari itu. Dia sadarnya bahwa Dewana yang seperti omongan kakaknya. 

“Kamu jangan mau diperintah istrimu,” kata Resti, wanita hitam manis kakak pertama Henry.

Diperintah? Aneh kan? Kata-kata itu hanya keluar dari mulut orang yang tidak menyukai seseorang. Kalimat seperti itu bukan dari seorang muslim yangnbergelar haji.  

“Kalau istrimu protes macam-macam, Kamu ancam. Suruh saja dia  keluar dari rumah atau Kamu yang keluar.” Suara kakak kedua yang bergelar hajjah, Remona namanya.  

Untuk kesekian kalinya Henry mengikuti kata-kata kakaknya. Sepertinya suami Dewana sudah tersihir entah oleh apa. Henry sudah lebih memikirkan dan memperhatikan perasaan kakaknya. 

“Kamu itu sudah memberikan seluruh gaji pada istri. Jangan mau cari uang lagi kalau uang gaji habis sebelum satu bulan. Biarkan dia usaha sendiri.” Kali ini kedua kakak Henry mencuci otak adik laki-laki yang diangkapnya lebih baik dari seorang Dewana.  

Dewana memang sudah meninggalkan dunia kerja sejak disuruh keluar oleh suaminya. Awalnya sempat ragu untuk melaksanakan perintah suaminya. Tapi dengan bismillah istri menurut kata suami.

Intinya, wanita bernama Dewana sudah tidak terawat kecantikannya, tubuhnya. Dia hanya disuruh berkutat di rumah. Cuci baju, setrika, masak, menguras bak mandi, membersihkan kamar mandi. Dengan gaji yang tidak banyak istri harus bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Tugas suami hanya kerja dan menyerahkan gajinya. Titik. Hal lain tidak mau tahu. Titik. Ada kantor seolah dijauhkan dari istri. 

“Kalau bisa acara kantor kamu sendiri saja, Hen. Jadi mobil tidak berdesakan,” ujar kakak Henry. Tanggal di almanak merah. Hari besar agaman. Tapi Henry dan kakaknya berangkat. Entah kemana. 

Dewana pernah memprotes Henry tidak punya prinsip. Tidak bisa berdiri sebagai suami pelindung istri. Kalau digunjing kakaknya tidak berani meluruskan. Tapi yang diserang istrinya.

“Bukankah di Islam suami juga harus melindungi dan mengayomi istri, lahir batin?”

“Kamu selalu membantah kata-kata suami. Selalu berargumen. Beralasan!” Suami Dewana tambah menaikkan suara dua oktaf. 

“Mas Hen, keadaan dan kebutuhan masing-masing keluarga kan tidak sama. Nggak bisa keluarga kita harus meniru keluarga lain.” Dewana memang berargumen. Berusaha mengembalikan suaminya di posisi yang seharusnya di pernikahannya. 

Tapi semua sia-sia. Akankah masalah seperti ini harus diakhiri dengan perceraian? 

“Kita sudah tidak sepaham, Ana. Kita sudahi saja pernikahan ini.” Suara Henry dingin ketika tersudut oleh penjelasan istrinya. 

“Aku pikir keluarga Mas Henry islamnya lebih baik dari aku. Mas sendiri ibadahnya tidak pernah tertinggal waktu. Tapi selalu dan selalu menyelesaikan persoalan kita dengan menyudahi sampai di sini. Bubar saja. Dan segala kalimat yang intinya mengakhiri akad kita.” Dewani menatap suaminya lembut. 

“Setiap keluarga punya masalahnya sendiri-sendiri. Itu pasti.” Aku berhenti sebentar. “Bukan dihindari untuk mengurainya. Tapi dihadapi. Hanya laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab yang tidak menyelesaikan masalah dengan kata’bubar’.”

“Sudah! Aku tidak mau dengar omonganmu lagi! Besok aku tidak pulang ke rumah ini!” Suami Dewana langsung masuk kamar dan menguncinya dari dalam.

                                 ***

Hari ini dua kakak Henry pingsan menyaksikan suami mereka penuh darah di sekujur tubuh.

Seseorang telah menelpon kakak Henry, Remona. Hajjah Remona.

“Maaf ini dengan istri Bapak Tomi?”

“Iya. Anda siapa? Kenapa menggunakan ponsel suami saya?” Tanya Remona dengan was-was.

“Bapak Tomi di rumah sakit Kasih. Mobil dengan nomor …..” Kelanjutan kalimat sudah tidak dihiraukan oleh Remona. 

“Hen, mas Tomi di rumah sakit. Coba Kamu telepon papahnya Ivan. Dari tadi aku telepon kok nggak diangkat.” Resti kakak pertama Henry menelpon.

“Memang kenapa Mbak?” tanya Henry.

“Papahnya Ivan kan yang nganter mas Tomi ke stasiun.” 

Henry panik tapi tidak menghiraukan Dewana di sampingnya. Dia repot sendiri.

“Ada apa, Mas?” tanya Dewana melihat suaminya bingung. 

Tak ada jawaban. Suami Dewana sibuk menghubungi ponsel kakak iparnya. Tak tersambung. 

“Mas Hen? Ada apa?” tanya Dewana sekali lagi. 

“Kamu jaga rumah! Aku ke rumah sakit,” jawaban Henry sangat tidak mengenakkan. 

Suara sepeda motor Henry terdengar meraung. Membelah malam menuju rumah sakit yang jaraknya lebih dua puluh menit jika macet. Dan pasti dengan kecepatan di atas 60 km/jam. 

                                     *** 

Tidak pernah terlintas di benak Dewana bahwa semua ini akan terjadi. Perih dan menyakitkan memang hinaan keluarga Henry terhadapnya. Lebih mengiris lagi ketika suaminya tidak mampu berbuat apa-apa untuk melindungi dirinya sebagai istri. Tidak usah membela, cukup meluruskan ucapan kakak yang tidak benar. Itu pun Henry tidak mampu lakukan.

Apapun rencana manusia, desicionmaker-nya tetap Allah. Salah satu sifatNYA adalah iradat. 

Dan saat ini Henry sudah tidak dapat beraktifitas dengan normal. Separuh tubuhnya mati rasa akibat tubuhnya terpelanting dari motor yang dikendarainya menabrak tembok pembatas trotoar. 

Kata Cinta yang Tertunda

Tetiba Aku sudah masuk grup Wa alumni SMA Negeri 1. Aku akui mereka memang hebat dalam melacak keberadaan teman-teman alumni.

Ponsel bergetar. Cukup lama, hampir satu menit. Nomor baru, aku tidak kenal.

Tiga puluh menit kemudian bergetar lagi. Nomor yang tadi. Aku masih enggan menerimanya. 

Tiba-tiba bunyi pesan masuk. Tling tling … tlong Tling. 

Panggilan masuk memang aku bisukan, tapi pesan singkat tidak.

Dew, maaf lahir batin.  Aku mau telepon tolong diangkat ya?

Belum sempat mengetik balasan, ponsel sudah bergetar.

“Kamu memang bahaya kok,” tiba-tiba kalimat itu menyerangku.

“Dew … Dewik, Kamu masih di situ, kan” suara di ujung telepon mencariku.

“Iya. Kenapa?” tanyaku merasa aneh dengan nada suara di ujung telepon. Ada nada kerinduan dan kemarahan yang berusaha ditahan.

“Kamu menghilang kemana saja selama ini?” Suara di sana panik dan gembira. Menurutku. 

“Kamu tidak tahu selama ini aku mencarimu?” Suara itu semakin membuatku merasa aneh.

“Kenapa? Toh aku tidak punya hutang ke Kamu,” jawabku sedikit bergurau. 

“Selama ini aku tidak punya kesempatan untuk mengatakannya ke Kamu. Dan terlalu lama jika harus menunggu kita bertemu.” Suara itu tidak memberi jeda buatku bicara.

“Kamu tidakkah selama ini merasa aku menyayangimu? ” suara itu berhenti.

“Dew! Dewi!” Teriakan di ujung telepon mengganggu gendang telinga.

“Hah?!” 

“Iya, Dew. Aku sayang Kamu, sangat. Sejak kita membentuk kelompok belajar bersama Bayu, Bambang dan Ni Nengah. Kamu ingat?” 

“Imam … bukankah itu waktu yang sudah sangat lama?” sahutku.

“Sudah dua puluh sembilan tahun yang lalu,” jawab Imam.

“Kenapa sekarang Kamu katakan?!” Aku marah.

“Jangan marah dong Dew,” protes Imam di seberang telepon. “Waktu itu aku tidak berani mengatakan. Aku berpikir umur kan tidak tahu sampai kapan. Jadi aku ingin melepas rasa yang sudah terlalu lama mengendap.” 

“Ya marah dong! Percuma semua ini Kamu katakan. Kita sudah tua. Kamu sudah punya keluarga yang baik,” kataku masih ada marah di sana. “Tidak ada pengaruhnya buatku, buat kita!”

“Terserah Kamu mau marah model apa, Dew. Ungkapan ini penting buatku!” seru Imam di sana.   

“Aku ingin Kamu tahu, rasa sayangku, sampai akhir hayat dikandung badan.”

“Kau gila. Suka bohong dan tukang rayu!” Aku maki dia habis-habisan.

“Dew … Aku tidak merayu, tidak bercanda. Aku serius dengan ucapanku tadi. Demi Allah.” Imam terdengar ngotot dan berusaha meyakinkan aku. 

“Aku lega, Dew. Jika sewaktu-waktu Allah memanggilku, Kamu sudah tahu perasaanku yang tersimpan selama ini.” 

Kamu

Retnas menangis sambil tangannya melap ingus.

“Hen, aku tidak percaya kalau ini menimpaku.”

“Kalau mau nangis, nangislah Mbak.” 

Retnas menangis lagi. Wanita itu tidak menyangka suaminya telah melakukannya.

“Apa salahku hingga Tuhan menghukumku sepean kakak iparnya.

“Gila kamu Hen! Menikahi Davina?!”

“Iya.”

“Memangnya sudah tidak ada wanita baik?!”

Davina ingat betul setiap kata yang diucapkan seorang wanita yang telah bergelar hajah itu.

“Perempuan murahan seperti dia?!”

“Mbak Ret!”

“Apa Hen?! Kamu lebih membela perempuan itu dari pada kakakmu?!”

Pertengkaran itu Davina dengar. Jarak antara ruang tamu dengan ruang keluarga rumah Retnas tidak terhalang oleh sekat apa pun. Davina terpaku di ambang pintu masuk ruang keluarga waktu itu. 

“Aku tidak mau perempuan penggoda itu masuk rumah ini!”

Retnas begitu takut suaminya tergoda Davina. Mengapa harus takut? Apakah kualitas iman suaminya tidak lebih baik dari adiknya? Retnas pasti mendengar cerita dari mantan istri Hendra. Cerita menurut versinya.

Davina terima semua cercaan dan hinaan itu dengan sadar. Kesendirian seorang Davina yang cantik tentu sangat sensitif. Terutama oleh istri-istri yang kurang kepercayaan diri. Mereka takut akan sudut kering mata Davina? Istri-istri yang menyedihkan. 

Sekarang wanita yang dulu menghina Davina di belakang itu sedang menangisi suaminya. Yang katanya pendiam, sayang istri dan anak-anaknya. Yang katanya tidak mungkin tertarik dengan perempuan murahan manapun. Jangankan perempuan murahan perempuan baik pun tidak mungkin suaminya berpaling darinya. 

Maha Besar Allah dengan Segala Kehendak-NYA. Suami Retnas sudah jatuh cinta dengan seorang janda yang centil. Dan janda itu telah hamil enam bulan. Retnas hampir gila mengetahui itu. Setiap hari kerjanya hanya menangis. Suaminya tidak pernah pulang ketika terakhir mereka bertengkar hebat.

Retnas telah diingatkan oleh Allah. Dia menghina Davina habis. Dia menolak Davina menginjakkan kaki di rumahnya. Dia selalu menyindir  jika Davina datang. Pandangannya tidak lepas dari Davina jika suaminya di rumah. 

Suami Retnas memang tidak tertarik pada Davina. Tapi pada seorang janda yang centil dengan penampilan seronok. Bukan Davina banget.

Gelar hajahnya tengah diuji oleh sang Khaliq. Apa yang kemudian akan Retnas perbuat jika harus bertemu Davina?