Hilang 

Suara gemuruh gesekan roda besi dengan rel memecah lamunan,

Derit perih memercik api bak kembang api tahun baru,

Riuh dan membuat membuat pening, 
Decit usaha untuk menghentikan  lajunya membuat lelah menggelayut, 

Aku pernah menjejakkan kaki di sini,

Tapi hari ini sepasang manik warna kelabu menyapu tiap lenggang langkah dari gerbongnya.

Aku meninggalkan angan di sela senandung gambang Semarang,

Melangkah ke depan meskipun semakin jauh kehilangan diri, 

Sosok di tubuh ini terasa asing bagiku,

Ya Tuhan … tolong kirim malaikatmu untuk menjagaku agar tidak gila.

Iklan

Yana

Hanya kilas tulisan kau hadir,

Bermula dari cericit gerakan jari-jari Kita saling mendekat

Antara takutmu akan suatu bayangan,

Dan ketakutanku pun akan sebuah cerita masalalu,

*

Aku tahu semua bak judul buku horor,

Dirimu dan diriku tak kasat mata,

Setidaknya dari sisi kamu,

*

Hanya sebuah iris yang menatap diam dan beku

Yang pernah kukira dirimu seorang gadis manis,

Nama sering menjebak memang, 

Hmmm… ya ya ya

Wanita itu.

Detak jarum penunjuk waktu di dinding beriringan gemuruh angin dari putaran baling-baling kipas berdiri setinggi pundak menemani kerjap iris berkacamata milik wanita cantik penghuni rumah KPR berkamar dua di malam yang menua.

Ada tiga hal yang masing berbincang di benaknya menemani senyap. Meskipun sayup terdengar lantun kidung kelam sang cicak yang berusaha mencari serangga dalam gelap, tapi wanita itu tidak sedikit pun terhibur. Dua bocah kebanggaannya telah tumbuh sehat dan cerdas di langkah usia mereka. Tangan wanita itu gemulai, tapi tidak lemah membelai kepala anak-anaknya yang sudah terlelap sejak sore.

Malam semakin pekat, tapi benak wanita bermata sipit itu belum mampu merebahkan tubuh langsingnya. Sepertinya sang angin mendapat dukungan sang malam untuk membiarkan daun-daun di halaman depan   rumahnya ikut terlelap. Menambah suasana sepi.

Besok telah menanti sebuah keputusan besar yang harus diambilnya. Tidak bisa tidak, wanita beranak dua itu akan menolak mutasi sebagai promosi jabatan di tempat kerjanya. Sekalipun resikonya pemutusan status karyawan di perusahaan yang sudah dua puluh tahun membiayai kehidupan keluarga kecilnya. 

Dia tidak mungkin meninggalkan dua bocah manis buah cinta dengan almarhum suaminya. Meskipun jarak kota mutasinya dapat ditempuh hanya tiga jam dengan kereta api. Namun, tidak mungkin juga dia melakukan perjalanan pulang pergi setiap hari. Di samping tenaga yang terbatas dan pasti biaya transportasi pun akan meningkat. Belum lagi rasa khawatir berjauhan dengan dua buah hatinya. Walaupun sebenarnya Si Sulung sudah bisa mengurus Si Bungsu, tapi ibu muda itu tetap tidak tega.

Hidup adalah pilihan. Dan selama dua puluh tahun kesendiriannya membesarkan dua buah hati selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, tapi kali ini dirasa pilihan yang besar. Dia akan menjadi wanita rumahan dengan dua bocah yang mulai beranjak remaja. Dia mempersiapkan ruang tamunya untuk dirombak menjadi ruangan dengan dua etalase yang akan terisi barang-barang kelontong. Yah, dia akan membuka toko kecil di teras rumah sebagai penopang kebutuhan hidup. 

Jarum jam sudah merangkak pelan melewati angka dua. Jemari wanita itu   masih berusaha memainkan angka-angka untuk memulai persiapan dagangannya. Tak lama ada getar yang membuatnya melepas kacamata dan bangkit menuju kamar mandi. Dibasuhkannya air wudu untuk sujud malamnya. Ya Allah, jauhkan apa pun yang akan merintangi langkah. Sajadah tergelar menerima tubuhnya yang terbalut mukena.

Arrahmanirrohim, Allah Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Allahu Akbar….

Tujuh Hari Terakhir

Enam penulis berkolaborasi dalam satu buku tentang beberapa kematian yang diduga berhubungan dengan cermin kuno bernama Gandasedha.

Penasaran?

Siapkan nyali untuk berkunjung ke http://www.storial.co/book/tujuh-hari-terakhir

Di tulis oleh :

* http://www.storial.co/profile/lembah-selatan

* http://www.storial.co/profile/itolawputra30

* http://www.storial.co/profile/handhita_m

* http://www.storial.co/profile/gendhuk

* http://www.storial.co/profile/intannera30

* http://www.storial.co/profile/bunga-utara

Arman Nurrahman

“Ibu, aku ingin membunuh perempuan itu.” Kata-kata yang diucapkan oleh seorang laki-laki muda yang hampir menikah mengiris jiwaku. Hati terasa perih. Laki-laki muda itu menatapku tajam.  

Getar di dada merambat cepat menelusuri tiap aliran darah di seluruh tubuh. Kedua tanganku dingin. Tatapan itu sangat aku kenal. Pernah hampir tujuh belas tahun aku mendampingi pemilik tatapan seperti itu. Bahkan sebelum Arman lahir. 

****

“Duduk, anakku,” kataku sambil menggandeng lengan laki-laki muda itu menuju kursi dekat jendela. 

“Sudah berlalu terlalu lama, ikhlas kan.” Aku menatap jiwanya. 

Masih ada gelegak panas serupa magma di perut bumi. Ada merah masih menganga di sebuah ruang di hati anak muda di hadapanku.

“Dendam itu tidak baik, Anakku.” Masih berusaha menghibur aku menggenggam kedua tangannya. Hangat dan bergetar. 

“Hanya dengan cara itu dendamku akan lunas, Ibu.” 

“Negara kita negara hukum, Nak. Sejak kamu lahir sudah dilindungi hukum.” Aku harus membuka hati anak muda ini.

“Tapi perempuan kotor itu akan merusak kehidupan,” kata anakku. Aku merasakan kemarahan yang ditahan. 

“Perempuan perusak rumah tangga itu tempatnya di ujung badik.” Wajah kesumat itu menohok selarik rasa yang masih terselip di hatiku.

Awalnya aku masih merasa senang ketika anakku masih marah pada mas Purnomo. Berarti anak-anak tidak akan mau diajak Bapaknya ke rumah barunya. Masih terselip ego karena aku merasa menang. Menang karena membuat mas Purnomo tidak akan bisa membawa salah satu anaknya hidup bersama ibu tiri. 

Apalagi Tante Parni membantu menanamkan pengertian jahatnya ibu tiri. Padahal dia sendiri seorang ibu tiri buat anak-anak Om Pran, suaminya. Adik ibu yang satu ini sangat mendukung usahaku menjauhkan anak-anak dari mas Purnomo. 

Tatapan dendam di retina Arman membuatku ngeri. Dan itu harus dipadamkan. Bukan karena aku takut disalahkan. Bukan karena aku takut mas Purnomo akan mengambil anak-anak melalui jalur hukum. Bukan. 

Aku harus menjauhkan anakku dari larangan agama. Meskipun tidak makan bangku sekolahan terlalu tinggi tapi anak-anakku harus beragama dengan baik. Shalat yang dilakukannya tiap hari. Ayat-ayat Al Qur’an yang dibacanya tiap sore harus mampu membuat anakku mengimani Islam lebih dalam. 

“Dengarkan ibu, Nak.” Kedua tangan mencangkup wajah laki-laki muda di hadapanku. “Ibu akan bicara panjang dan sekali. Tolong dengarkan baik-baik dan pikirkan dengan baik.” Gerakan mataku  mengajaknya mengangguk.

“Baik Ibu,” jawab anakku terdengar lirih. Masih bergetar dendam di sana.

“Kamu ingat Tante Titin?” tanyaku. Anakku mengangguk.

“Kamu ingat Tante Wati? Tante Heny, Tante Dini dan yang terakhir Tante Anna?” Anakku mengangguk dengan raut wajah penuh tanya..

“Tante Wati yang datang ke rumah dengan ibunya?” tanya anakku. Balik aku yang mengangguk. 

“Tante Titin yang berciuman dengan Bapak di ruang tamu? Tante Heny yang datang bersama ayahnya? Tante Dini yang nekat telepon ingin memiliki Bapak? Dan Tante Anna yang mengajak Bapak ke pantai untuk membawa aku hidup bersamanya?” Pertanyaan Arman ku jawab dengan anggukan pedih. Luka itu belum hilang benar.

“Bapakmu bukan seorang remaja. Bapakmu laki-laki dewasa yang sudah menikah dan punya anak. Bapakmu bukan orang bodoh.” Jeda yang kucipta membuat sorot dendam di mata Arman melemah. 

“Perempuan itu tidak akan mengikuti laki-laki jika laki-laki tidak memberi janji dan jaminan apa pun.” Kembali aku memberi ruang hati anakku untuk menelaah ucapanku. 

“Kamu sudah bertunangan dengan pacarmu. Kamu pasti tahu maksud kalimat ibu,” lanjutku. 

Arman menganggukkan kepala. Menggenggam kedua tanganku yang sedari tadi sudah menggenggam tangannya. 

“Perempuan itu tidak sepenuhnya salah. Ibu juga salah. Tidak bisa menjaga diri sehingga Bapakmu mencari perempuan lain. Dan Bapakmu juga keliru. Mengedepankan egonya.” Satu tanganku mengelus kepala Arman. 

“Pertengkaran dan perceraian dalam sebuah pernikahan itu bukan salah istri atau suami saja. Keduanya saling berperan.” Aku berusaha  tersenyum menatap laki-laki muda bernama Arman.

“Satu lagi. Kita tidak boleh menganggap orang lain berkelakuan bejat. Belum tentu kita lebih baik dari orang yang kita benci kelakuannya. Allah punya kriteria tersendiri untuk umat-NYA. Jadi, bukan kita yang harus menghakimi manusia lain. Sekalipun kita sangat membencinya. Hanya Allah yang mampu menghakimi manusia dengan adil.” Aku menyibak rambut di kening Arman. “Kita hanya perlu berusaha berbuat baik pada siapa pun.” 

Arman tertunduk. Kurasakan jemarinya tidak setegang tadi. Helaan napasnya sudah lebih tenang. 

“Jangan Kau sia-siakan islammu dengan hal-hal yang merusak ajarannya.” Suara mas Zamron sudah berdiri di belakang kami. 

“Ayah …” Anakku berdiri meraih tangan ayah tirinya kemudian menciumnya. 

“Yang penting, kita tutup masa lalu. Kita membangun masa depan agar menjadi lebih baik. Baik di langkah, di iman dan di hati.” Mas Zamron mencium pucak kepala Arman, anakku. 

Sampah

Sudah beberapa kali subuh aku tidak melihat wanita ceking dengan rokok di tangan sambil mendorong gerobak. Tetapi sampah di depan rumahku dan juga rumah tetangga bersih. Berarti diambil dan aku tidak melihat wanita itu mengambilnya. 

Akhirnya hari ini sehabis shalat subuh aku nongkrong di halaman depan sambil mencabuti rumput meskipun belum tinggi.Sampai jam tujuh pagi tidak lewat. Sampah masih utuh di bak yang terbuat dari ban bekas di depan rumahku dan tetangga. 

Sore sepulang kerja, bak masih ada sampah tadi pagi. Berarti belum diambil. Karena sampahku sedikit maka besok harinya tidak ada tambahan sampah di bak. Tapi sampah kemarin masih ada.

Subuh kembali aku nongkrong di halaman depan. Seperti kemarin sambil merumput, mencabut rumput pendek-pendek di halaman. Tapi jarum jam dindingku sudah menunjuk diangka tujuh lebih lima belas menit. Belum kulihat wanita tua mendorong gerobaknya mendekat.

Tetiba terdengar suara riuh mesin seperti bajaj. Sebuah motor dengan bodi didesain sedemikian rupa ditambah gerobak dalam ukuran tidak kecil juga tidak terlalu besar berhenti di depan rumah. Warna gerobak biru muda yang segar. Warna putih mendominasi jeruji gerobaknya. Cat warna-waena itu masih baru. Baunya saja masih menguar. Bagian samping gerobak sengaja dipasang lempeng kayu sebagai landasan tulisan.’Petugas Sampah Pemberdayaan Koperasi Jaya Murni dari rt. 09 rw. 02.’ Petugasnya dua orang laki-laki. Sebagai pengemudi dan pengambil sampahnya. Kedua laki-laki itu memag belum terlalu tua. Jadi jika sampah yang diambil dari bak yang besar dan isinya penuh, maka dua laki-laki itu saling bantu.

Sudah hampir dua bulan aku tidak melihat wanita tua yang ceking dengan rokok di sela jemari lewat di depan rumah. Berarti tim sampah sudah diganti. Sekarang dikelola oleh rt. 09 rw. 02. Yang gerobaknya lebih baru, lebih bersih dan bermesin. Sehingga pengambilan sampah menjadi lebih cepat. Kemana gerobak sampah yang reyot dulu? Yang jika mengangkut sampah terlalu banyak akan menjebol sisi kanan atau kiri gerobak, membuat sampah tercecer sepanjang jalan. Jika sampah seluruh komplek perumahan diambil oleh tim dari rt. 09 rw.02, lantas bagaimana nasib wanita tua dengn rokok di sela jemari beserta gerobaknya?