Bulan Suci

Langkah-langkah dalam diam telah mengistirahatkan diri,

Kepenatan terurai dalam balutan kardus-kardus bekas yang tersusun,

Rangkaian malam, dan siang telah menjadikannya sosok pendiam,

Bahkan dalam tatapan tuduhan orang-orang di bangunan-bangunan tembok rumah mereka,

Sosok beralaskan sendal jepit, bahkan telapak kaki polos langsung bersentuhan dengan bumi yang menua,

Seperti usia Sang Sosok,

Merenta perlahan oleh waktu,

°

°

Sosok diam itu juga manusia,

Sama sepertiku,

Dan bulan ini pun sangat dia nantikan,

Kini malamnya selalu dihiasi dengan sujud, dan tengadahkan hati,

Kesadaran akan sosok diam itu akan kepapaan dirinya,

°

°

Bukan papa karena hanya kardus pelindung istirahatnya,

Bukan papa karena kakinya kadang telanjang menapaki hidup,

Bukan papa karena anak satu-satunya jauh dari jangkauannya,

Bukan papa karena hanya satu gentong 500 liter kamar mandinya,

Bukan,

Bukan karena perjuangannya tidak dapat berhenti oleh cita-cita anaknya,

°

°

Bulan ini … Malam-malamnya selalu basah oleh getar doa,

Tidak ada penyesalan dalam gambaran di wajah yang mulai keriput itu,

Tiap tetes keringatnya,

Tiap tapak kakinya melangkah,

telah menambah deretan angka-angka di buku tabungannya,

Namun, dia pun tak segan berbagi dalam keterbatasannya,

Dia hanya ingin berjalan tanpa memikirkan keduniawian,

Hanya satu keresahan yang selalu mewarnai sujudnya,

Nak Jaka, bisakah bapak menyiapkan diri untuk sewaktu-waktu dipanggil pulang ya?”

“Insya allah, Pak. Bapak telah menjalankan semua kewajiban dengan baik. Sebentar lagi Mas Abdul datang menunjukkan semua perjuangan ayahnya selama ini.”

Laki-laki yang selalu diam dalam langkahnya itu duduk di depan rangkaian kardus ditemani secangkir kopi yang masih menguarkan aromanya,

Aku selalu menolak dibuatkan,

Peci hitam lusuh masih menempel di kepala bersama sarung kotak-kotak kiriman Mas Abdul di hari ulang tahun ke 54,

Satu-satunya hadiah ulang tahun yang mampu anaknya berikan,

°

°

Seruputan kedua mengantarkan iris hitamnya menatap langit yang belum gelap,

Kuikuti tatapan laki-laki yang tidak pernah kesepian meskipun selama ini hidup sendirian,

Ada beberapa bintang yang berpencar berjauhan di atas sana,

Sehingga kerlipnya begitu kecil,

Hening sejenak menenggelamkan napas seorang bapak di puncak kerinduannya,

Bertahun-tahun kerja kerasnya telah membuatnya mengharapkan hari ini,

°

°

Dalam diamnya petang hari ini …

Tiba-tiba sebuah suara yang lama tak terdengar memecah angannya,

Seorang pria lima tahun lebih muda dariku telah berdiri dengan tatap kerinduan di sana,

Dadaku berdebar melihat matanya,

Ada bening di bingkai kelopaknya,

Pria gagah dengan tas punggung hitam itu kemudian menjatuhkan kedua lututnya di tanah di hadapan laki-laki bersarung di sampingku,

Bapak…. Terima kasih sudah menjadikan aku pria hebat.”

°

°

Bulan ini benar-benar suci,

***

Selamat menunaikan puasa Ramadan,

Berdoalah karena ada banyak keajaiban di bulan ini.

gendhukgandhes, 210518

Iklan

Pagimu

Sudah kembali pagi,

Aku terbangun saat eranganmu kembali terdengar,

Maafkan aku terlambat,

Kekuatan jiwamu adalah semangatku,

Meskipun kau terbaring, tapi selalu mampu membangunkan subuhku,

Tuhan tahu,

Kau selalu menyeru Asma-NYA, walaupun kata sudah tak keluar dari mulut,

Pun di dalam tubuh yang sudah tak mampu kau gerakkan sujudmu tidak pernah tertinggal,

Tuhan tahu,

Senyum di wajahmu,

Tatapanmu yang tenang,

Kau tak pernah mau membiarkan sakitmu mengalahkan kesombonganmu selama ini

Rautmu yang selalu bercahaya merupakan penggambaran keikhlasanmu menerima ketenfuan-NYA,

Tuhan memberi kita sakit karena hendak menghilangkan egoisme, dan kesombongan diri,

Hanya kepada-NYA lah kita kembali.

Pagi sudah datang….

Tatapmu.

Apa yang kau inginkan sama dengan asap yang membumbung tinggi kemudian bubar di udara?

Bagaimana jika asap itu berasal dari solar?

Bukankan solar menguar di udara yang rendah?

Tatapmu aneh,

Mungkin aku yang tidak mengerti apa maumu,

Ataukah memang aku enggan mengikuti sepak terjangmu lagi?

Hilang 

Suara gemuruh gesekan roda besi dengan rel memecah lamunan,

Derit perih memercik api bak kembang api tahun baru,

Riuh dan membuat membuat pening, 
Decit usaha untuk menghentikan  lajunya membuat lelah menggelayut, 

Aku pernah menjejakkan kaki di sini,

Tapi hari ini sepasang manik warna kelabu menyapu tiap lenggang langkah dari gerbongnya.

Aku meninggalkan angan di sela senandung gambang Semarang,

Melangkah ke depan meskipun semakin jauh kehilangan diri, 

Sosok di tubuh ini terasa asing bagiku,

Ya Tuhan … tolong kirim malaikatmu untuk menjagaku agar tidak gila.

Yana

Hanya kilas tulisan kau hadir,

Bermula dari cericit gerakan jari-jari Kita saling mendekat

Antara takutmu akan suatu bayangan,

Dan ketakutanku pun akan sebuah cerita masalalu,

*

Aku tahu semua bak judul buku horor,

Dirimu dan diriku tak kasat mata,

Setidaknya dari sisi kamu,

*

Hanya sebuah iris yang menatap diam dan beku

Yang pernah kukira dirimu seorang gadis manis,

Nama sering menjebak memang, 

Hmmm… ya ya ya